ARA 2013
“Ujian Korporasi Menjelang AEC 2015”
ARA
2013 makin menjangkau kategori peserta yang lebih luas. Kriteria
penilaian pun semakin menutup peluang penyampaian laporan yang hanya
akal-akalan belaka.
Mulai
tahun ini, ajang kompetisi pelaporan keuangan bergengsi, Annual Report
Award (ARA) menambah satu kategori baru, yakni dana pensiun, terdiri
dari dana pensiun keuangan dan dana pensiun pemberi kerja. Berbeda
dengan tahun sebelumnya, dana pensiun kini memiliki kriteria penilaian
sendiri, yang berbeda dari peserta pada umumnya (perusahaan).
Anggota
Dewan Juri ARA 2013, Rosita Uli Sinaga mengatakan, pada ARA sebelumnya,
tiga peserta dana pensiun tidak dimasukkan dalam penilaian, karena
penyelenggaraan ARA belum memiliki kriteria penilaian khusus untuk
lembaga tersebut. “Sekarang ini dibuatkan kriteria khusus untuk meng-encourage mereka menyusun annual report, sehingga peluangnya untuk menang akan lebih tinggi,” jelasnya.
Hal
itu diharapkan menambah motivasi pengelola dana pensiun untuk membuat
pelaporan keuangan yang lebih baik. Rosita mengungkapkan kriteria
penilaian dana pensiun berbeda dengan perusahaan umum karena
undang-undangnya juga berbeda. Banyak hal yang bisa diterapkan di
perusahaan umum, tapi tidak sesuai dengan kondisi di dana pensiun.
“Misalnya
di perusahaan umum ada dewan komisaris dan dewan direksi, tapi di dana
pensiun adanya hanya dewan penasihat. Banyak sekali peraturan-peraturan
mengenai corporate governance yang di perusahaan umum sudah
lazim, tapi di dana pensiun tidak lazim karena tidak dipersyaratkan di
undang-undang,” tambah Rosita.
Menutup Celah Akal-akalan Pelaporan
Dalam penjurian yang meliputi penilaian annual report secara tertulis dan wawancara, perusahaan tak hanya dituntut untuk menyampaikan detail assessment terhadap corporate governance secara benar dan transparan, tetapi juga harus memberikan klarifikasi secara lisan atas apa yang dilaporkannya.
“Karena bisa saja yang mereka tulis bagus, tapi board of director dan board of commisioner
ternyata tidak paham atas apa yang mereka sampaikan. Jangan-jangan ini
bisa-bisanya konsultan saja,” kata Rosita. “Tentu terlihat disitu apakah
mereka menguasai annual report-nya atau tidak. Ini sekaligus menutup celah akal-akalan pelaporan di kalangan peserta,” tandasnya.
Menjadi Media Komunikasi
Membangun Daya Saing Ekonomi Indonesia untuk Menyongsong Integrasi Ekonomi ASEAN 2015, melalui Transparansi Informasi adalah tema yang diangkat dalam penyelenggaraan ARA 2013. Ini makin menekankan pentingnya penerapan good governance
di internal perusahaan karena hal itu diyakini bisa berdampak pada
pengelolaan perusahaan yang lebih baik sehingga akan mengangkat daya
saing di masa depan.
Selain
itu, dalam era keterbukaan informasi seperti saat ini, sebuah laporan
tahunan perusahaan tidak lagi hanya dianggap sebagai bentuk
pertanggungjawaban manajemen dalam Rapat Umum Pemegang Saham saja.
Laporan Tahunan kini telah menjadi media komunikasi yang efektif kepada
semua pihak, untuk menjelaskan kinerja dan prospek masa depan
perusahaan.
Dengan
menjadikan laporan tahunan sebagai transparansi informasi, maka
diharapkan akan tercipta GCG yang sekaligus bermanfaat untuk kemajuan
perusahaan. Rosita berharap dengan diberikannya kriteria penilaian bagi
dana pensiun, maka akan lebih banyak lagi dana pensiun yang ikut serta
di ajang ini. Selain itu, keikutsertaan perusahaan privat yang lebih
banyak lagi sangat diperlukan, karena selama ini peserta ARA didominasi
oleh perusahaan BUMN. “Biar bagaimanapun ini keterbukaan informasi,
semakin baik informasi itu dan semakin terbuka, tentu yang diuntungkan
masyarakat,” tegas Rosita.
Jumlah
peserta ARA 2013 meningkat dibandingkan tahun lalu. Tercatat ada 261
perusahaan dan 12 dana pensiun, akan memperebutkan penghargaan sebagai
perusahaan/dana pensiun dengan laporan keuangan terbaik. Tahun
sebelumnya, ARA diikuti oleh 237 peserta yang terdiri dari 234
perusahaan dan 3 dana pensiun.
Acara
penganugerahan Annual Report Award 2013 akan berlangsung di Jakarta
pada 16 Oktober 2014. Penghargaan yang akan diterima para pemenang
antara lain sertifikat dari Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian BUMN dan
Bank Indonesia, pemotongan biaya pencatatan/listing fee
sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia, serta penghargaan dari IAI yang
berupa pembebasan biaya keanggotan, pelatihan serta ujian sertifikasi.
GCG Bobot Terbesar
Penghargaan
ARA 2013 diberikan kepada perusahaan dan dana pensiun yang berhasil
memperoleh nilai terbaik dari semua kriteria yang ditetapkan. Baik
perusahaan maupun dana pensiun, masing-masing memiliki 8 klasifikasi
kriteria penilaian dengan jumlah bobot yang berbeda.
Untuk
kriteria penilaian perusahaan, klasifikasi GCG memiliki bobot terbesar
yakni 35%, serta analisa dan pembahasan manajemen atas kinerja
perusahaan sebesar 22%. Penilaian terkait GCG tersebut salah satunya
meliputi uraian mengenai corporate social responsibility yang di antaranya terkait dua hal.
Pertama,
lingkungan hidup, mencakup sertifikasi di bidang lingkungan yang
dimiliki perusahaan, kebijakan manajemen, serta kegiatan yang dilakukan
terkait program lingkungan hidup yang berhubungan dengan kegiatan
operasional perusahaan seperti penggunaan material dan energi yang ramah
lingkungan dan dapat didaur ulang, serta sistem pengolahan limbah
perusahaan. Kedua, pengembangan sosial dan kemasyarakatan, berupa
informasi tentang kebijakan manajemen, kegiatan serta biaya yang
dikeluarkan terkait pengembangan sosial dan kemasyarakatan.
Sedangkan
untuk dana pensiun, bobot penilaian terbesar yakni 35% terdapat pada
klasifikasi tata kelola, serta analisa dan pembahasan manajemen atas
kinerja dana pensiun sebanyak 22%. Penilaian mengenai tata kelola dana
pensiun itu terdiri dari 14 kriteria, salah satunya berupa uraian
mengenai manajemen risiko dana pensiun yang meliputi penjelasan mengenai
sistem manajemen risiko, evaluasi yang dilakukan atas efektivitas
sistem manajemen resiko, penjelasan mengenai risiko yang akan dihadapi
dana pensiun serta upaya untuk mengelola risiko tersebut.
Dalam
menilai analisa dan pembahasan manajemen atas kinerja dana pensiun,
terdapat 9 kriteria, yang salah satunya meliputi uraian tentang
kemampuan membayar manfaat pensiun dan tingkat kolektabilitas piutang
iuran dengan menyajikan perhitungan rasio yang relevan. Bahasan dan
analisis kriteria tersebut adalah mengenai kemampuan dana pensiun dalam
menyelesaikan pembayaran manfaat pensiun kepada seluruh peserta dana
pensiun yang akan jatuh tempo dalam satu tahun; tingkat kolektabilitas
piutang iuran; dan kesesuaian aset dan liabilitas. *DIN
(Tulisan ini telah terbit di Majalah Akuntan Indonesia Edisi Oktober – Nopember 2014)





0 komentar for "Peristiwa: “Ujian Korporasi Menjelang AEC 2015” "
Posting Komentar